Antisipasi Perlambatan Ekonomi pada Tahun 2023

Swaraetam.com, Jakarta – Titik terang di haluan arah ekonomi Indonesia. Ekonomi yang stabil tumbuh 5 persen hingga kuartal II 2023, artinya resiliensi ekonomi terjaga. Ekonomi Indonesia yang menjadi bagian dari titik terang global, saat kondisi ketidakpastian masih menghantui.

Ada optimisme dan alarm waspada. Karena di batas horizon global, kabut gelap masih menggelayut. Antara optimisme dan kecemasan itulah, perahu ekonomi dinahkodai Presiden Jokowi jelang akhir periode pemerintahan. BPS pada Senin (7/8/2023), merilis kinerja PDB RI Triwulan II Tahun 2023. Lantas bagaimana geliat ekonomi sepanjang tiga bulan terakhir?

Pertumbuhan ekonomi melambat berdasarkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi hingga triwulan II 2023 adalah 5,17 persen (y-on-y), lebih rendah dari triwulan II 2022 sebesar 5,46 persen. Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2023 tumbuh sebesar 3,86 persen (q-to-q), sejalan dengan pola tahun-tahun sebelumnya, di mana pertumbuhan triwulan II lebih tinggi dari triwulan I.

Dari sisi lapangan usaha, sektor yang memimpin pertumbuhan tertinggi adalah transportasi dan pergudangan, dengan pertumbuhan sebesar 15,28 persen (y-on-y). Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2022 yang mencapai pertumbuhan sebesar 21,27 persen. Perlambatan pertumbuhan sektor ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penurunan permintaan, kenaikan biaya operasional, hambatan atau gangguan dalam proses distribusi, atau kebijakan pemerintah yang membatasi mobilitas.

Sektor industri yang mencatat pertumbuhan 4,88 persen. Lebih besar dari triwulan yang sama pada 2022 sebesar 4,01 persen.

Kontribusi sektor industri terhadap PDB triwulan II 2023 pun ikut meningkat sebesar 18,25 persen. Lebih tinggi dari kuartal pada tahun lalu sebesar 17,84 persen.

Dari sisi PDB pengeluaran, konsumsi Rumah Tangga (RT) melambat 5,23 persen (y-on-y) jika dibandingkan dengan periode tahun 2022 sebesar 5,51 persen.

Perlambatan pertumbuhan konsumsi RT dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti: masyarakat menengah ke atas menahan konsumsi, daya beli masyarakat belum pulih, berkurangnya keyakinan konsumen terhadap kenaikan penghasilan, penurunan pertumbuhan industri makanan dan minuman.

Ekspor mengalami kontraksi di kuartal II 2023 sebesar -2,75 persen (y-on-y). Hal ini disebabkan oleh normalisasi harga komoditas global dan kurangnya permintaan global akibat belum pulihnya ekonomi dunia.

Meskipun demikian, dengan kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,17 persen secara tahunan, pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan persistensi di atas level pra-Covid-19.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *